Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Disetir Industri, Jay Subiakto Prihatin dengan Seniman Muda

Written By Luthfie fadhillah on Jumat, 10 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Jay Subiakto mengaku khawatir dengan seniman muda atau generasi sekarang yang selalu diatur oleh industri dalam berkarya, entah dalam musik ataupun film. Dengan banyaknya suguhan-suguhan dari industri tersebut, maka banyak karya-karya yang sebenarnya bagus tetapi tidak tereskpos.


"Saya berharap generasi muda mau mencoba untuk berpikir dan juga memiliki idealisme. Karena tidak semua yang kita lakukan untuk uang," ujarnya di sela-sela jumpa pers konser 40 Tahun Erros Djarot Berkarya di Jakarta, Jumat (10/1).


Menurutnya, generasi muda harus bisa memikirkan sesuatu yang original dan baru bila ingin menjadi berkualitas. Dengan begitu, Jay selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya agar masyarakat bisa mengapresiasi yang memang patut diapresiasi.


"Orang Indonesia juga memiliki kecenderungan lebih menghargai karya orang asing. Misalnya bila musisi asing konser di sini dengan musik seadanya dan telat memulai konser, penonton mana ada yang marah-marah. Namun, bila saya yang melakukan kesalahan semua marah-marah. Padahal saya selalu total dalam menggelar konser tidak pernah setengah-setengah," keluhnya.


Dia juga mencontohkan untuk konser 40 Tahun Erros Djarot Berkarya yang sedang dia urus. Jay mengungkap tidak akan menampilkan hingar bingar yang tidak bermutu, seperti yang ada di televisi.


"Bila konser persembahan Mas Erros ini masuk televisi, pasti kita harus menampilkan artis-artis yang lagi ngetop seperti Cherrybelle, JKT 48 atau Wali. Karena televisi kita hanya mementingkan rating," imbuh Jay.


21.50 | 0 komentar | Read More

Ayu Ting Ting Tolak Enji Beri Nama Bayinya

Written By Luthfie fadhillah on Kamis, 09 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Rupanya Ayu Ting Ting benar-benar sudah membenci suaminya, Hendri Baskoro atau yang akrab disapa Enji. Bahkan Ayu dengan tegas menolak bila Enji memberikan nama pada bayi yang dilahirkannya itu. Selain itu Ayu akan menolak kedatangan Enji bila nantinya dirinya melahirkan. Hal itu diungkapkan ayahanda Ayu Ting Ting, Abdul Rozak saat ditemui di kediamannya di Sukmajaya, Depok, Jawa Barat, Kamis (9/1).


"Enggak perlu repot-repot kasih nama, nama sudah dibuatkan bundanya," ungkap Abdul Rozak.


Abdul Rozak sendiri mengaku bahwa pemilihan nama bagi bayinya itu sudah dipersiapkan Ayu sejak jauh-jauh hari dan nama yang akan diberikannya itu dianggap nama yang pas bagi cucu pertamanya itu.


"Sama Ayu sudah dipersiapkan namanya dengan matang sejak jauh-jauh hari. Namanya Islami deh, biar sifatnya bagus juga," lanjut ayahanda pelantun "Sik Asik itu."


Disinggung perihal Enji yang ingin menjenguk putrinya yang sedang diisukan melahirkan, Abdul Rozak dengan tegas menolak kedatangan Enji menjenguk putri kesayangannya itu.


"Gak usah pikirin anak ayah lagi, mending pikirin yang ada di luar sana. Anak ayah sudah sama ibunya, itu cukup bagi kami untuk menemani saat Ayu melahirkan. Dia tidak perlu memaksa-maksa ketemu Ayu, karena Ayu juga akan menolaknya," ujarnya dengan sedikit emosi.


21.50 | 0 komentar | Read More

Film "99 Cahaya di Langit Eropa" Raih 1,1 Juta Penonton

Written By Luthfie fadhillah on Rabu, 08 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Di tengah lesunya jumlah penonton bioskop di Indonesia, kabar menggembirakan datang dari film "99 Cahaya di Langit Eropa" garapan sutradara Guntur Soeharjanto.


Sejak tayang perdana di bioskop mulai 5 Desember 2013 lalu, film ini diakui Guntur telah meraih sebanyak 1,1 juta penonton. Bahkan hingga pekan ini, beberapa bioskop juga masih memutar film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan pasangan Hanum Rais dan Rangga Almahendra tersebut.


"Sudah satu bulan lebih diputar di bioskop, tapi apresiasinya masih bagus. Responnya juga positif dan mereka mengerti apa yang ingin kita sampaikan," kata Guntur Soeharjanto di Jakarta, Rabu (8/1).


Atas prestasi yang sudah diraihnya ini, Guntur mengaku tak ingin berpuas diri. Ia justru semakin terpacu untuk membuat sekuel film ini lebih baik lagi.


"Untuk bagian kedua sebetulnya sudah rampung sekitar 70 persen. Kita garapnya saat proses syuting yang pertama, jadi tinggal melengkapi yang kurangnya saja," kata dia.


Namun Guntur tak bisa memastikan kapan sekuel film ini akan segera dilengkapi. Hal ini terkait waktu dan cuaca.


"Di Eropa kebetulan kan juga lagi winter, jadi ada banyak hal yang harus dipersiapkan," ujarnya.


Sekuel film "99 Cahaya di Langit Eropa" ini menurut Guntur akan berkisah tentang lanjutan perjalanan Hanum Rais (Acha Septriasa) dan Rangga Almahendra (Abimana Aryasatya) dalam menapaki jejak-jejak kebesaran Islam di benua biru Eropa.


"Film yang pertama kan baru menampilkan perjalanan Hanum dan Rangga ke Vienna (Austria) dan Paris (Perancis), di part 2 nanti akan ada sambungan perjalanan mereka ke Cordoba (Spanyol) dan Istambul (Turki). Kita juga akan coba untuk bisa syuting di Mekkah," ungkapnya.


21.50 | 0 komentar | Read More

Dikabarkan Akan Bercerai, Ini Jawaban Christy Jusung

Written By Luthfie fadhillah on Selasa, 07 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Kabar keretakan rumah tangga pasangan selebriti Christy Jusung dan suaminya Jay Alatas ditanggapi santai oleh mantan istri Hengki Kurniawan itu. Hal itu diungkapkannya saat ditemui di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (6/1).


"Rumah tangga bagian mana ya yang retak? Kalaupun ada yang minta ditanggapi, bagian mana yang harus ditanggapi? Hubungan rumah tangga kita masih baik-baik saja sampai sekarang. Mas Jay pasti tahulah isu ini, karena memang kerja di lingkungan yang sama dan tanggapannya hanya senyum saja," ungkap Christy Jusung.


Christy juga menyangkal isu keretakan rumah tangganya akibat tidak akurnya hubungan ibu dan anak tirinya.


"Kata siapa saya bermasalah (dengan anak-anak Jay)? Kita biasa-biasa saja, kok. Kita masih sering ketemu kalau pas memang ada waktu," lanjut ibunda Bintang itu.


Dijelaskan pula oleh Christy, keluarga besar mereka tetap menganggap santai isu yang beredar dan menyerahkan semuanya kepada Christy dan Jay yang menjalani rumah tangga.


"Keluarga sendiri menyikapi santai pemberitaan miring ini. Mereka menyerahkan semuanya pada saya dan Mas Jay, karena kita sudah dewasa," tuturnya.


21.50 | 0 komentar | Read More

"Girl Rising", Kisah Remaja Perempuan di Negara Berkembang

Written By Luthfie fadhillah on Senin, 06 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Hari ini Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) menyelenggarakan pemutaran film berjudul Girl Rising di @america Pacific Place, Jakarta. Film ini mengisahkan kondisi anak-anak perempuan yang tinggal di beberapa negara sedang berkembang.


Kumpulan kisah ini dikemas dalam bentuk film dokumenter yang disutradarai oleh Richard E. Robins dan didukung oleh Intel Corporation dan CNN Films.


Film ini juga dinaratori oleh beberapa artis Hollywood. Antara lain, Meryl Streep, Anne Hathaway, Liam Neeson, Cate Blanchett dan Selena Gomez.


"Kita harus peduli dengan kondisi perempuan karena ada seorang ahli ekonomi yang bilang kalo keberhasilan suatu negara juga ditentukan dengan kondisi perempuan dari negara tersebut," ungkap Kristen F. Bauer, Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia pada acara diskusi dan pemutaran film dokumenter Girl Rising di Jakarta, Senin (6/1).


Kristen juga menggambarkan bahwa kondisi perempuan di dunia masih sangat memprihatinkan. Sebanyak dua pertiga penduduk di dunia yang buta huruf adalah berjenis kelamin perempuan. Dan masih banyak perempuan di dunia yang mendapat pelayanan kesehatan buruk.


"Film ini sudah diputar di beberapa negara termasuk Amerika Serikat dan mendapat sambutan yang sangat baik. Saya harap melalui film ini isu-isu kekerasan terhadap perempuan bisa berkurang," ujarnya.


Film dokumenter ini mengisahkan kehidupan seorang anak perempuan yang berasal dari sembilan negara. Yaitu Kamboja, Haiti, Nepal, Mesir, Ethiopia, India, Peru dan Afghanistan.


Diceritakan bahwa kemiskinan dan budaya di masyarakat menjadi isu utama dalam menghambat pendidikan perempuan. Perempuan di belahan-belahan dunia tersebut tidak bisa menikmati pendidikan selayaknya. Bahkan sebagian dari mereka harus rela bekerja di usia dini untuk mengalah karena orang tuanya hanya mampu menyekolahkan saudara laki-lakinya.


"Keluarga lebih memilih laki-laki yang disekolahkan, karena dianggap laki-laki bisa merantau ke kota dan bisa lebih mandiri. Selain itu, laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah yang ideal untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga," kata Michelle Bekkering, Resident Country Director, International Republican Institute (IRI).


21.50 | 0 komentar | Read More

Dalang Wayang Suket Slamet Gundono Berpulang

Written By Luthfie fadhillah on Minggu, 05 Januari 2014 | 21.50


Solo - Dalang kondang wayang suket Slamet Gundono meninggal dunia pada hari Minggu (5/1) pukul 08.45 WIB di Rumah Sakit Islam Yarsis Solo, dan jenazahnya akan dimakamkan di tanah kelahirannya di Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (6/1).


Sebelum dibawa ke Slawi, jenazah dalang kelahiran 19 Juni 1966 itu akan lebih dulu disemayamkan di pendapa Taman Budaya Jawa Tengah di Kentingan Solo untuk diberikan penghormatan terakhir oleh para seniman dan budayawan dari Solo dan Yogyakarta.


Setelah selesai diberikan penghormatan dan tata cara adat jenazah Slamet Gundono yang juga terkenal sebagai dalang sintren itu pada pukul 17.00 WIB dengan kendaraan darat diberangkatkan menuju Slawi.


Seniman dan budayawan Bambang Murtiyoso mengatakan dengan meninggalnya Slamet Gundono, ia merasa kehilangan, karena almarhum mempunyai potensi yang luar biasa.


"Slamet Gundono itu memang dalang serba bisa dan mempunyai kreativitas yang luar bisa dan suaranya juga bagus," kata dosen almarhum ketika masih kuliah di Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo itu.


Ia mengatakan Slamet Gundono ketika kuliah memang sudah menonjol dibandingkan dengan mahasiswa lainnya, utamanya pada suaranya yang mengekspresikan nada rendah sampai tinggi.


Almarhum Slamet Gundono juga punya latar belakang teater, sehingga dalam memeragakan wayang juga bisa mengekpresikan wayang terbuat dari barang mati bisa seperti hidup. "Ini kelebihannya yang tidak semua dalang memilikinya," imbuhnya.


Pengamat budaya MT Arifin mengatakan almarhum selain menjadi dalang wayang suket juga merupakan dalang sintren yang merupakan keturunan dari kakeknya yang dulu juga merupakan dalang sintren.


"Tidak semua orang bisa melakukan dalang sintren dan almarhum Slamet Gundono merupakan tokoh di daerahnya yang sekaligus merupakan dalang sintren yang terakhir saat ini. Untuk itu wajar kalau warga daerahnya menghendaki jenazah alamarhum untuk dimakamkan di tempat kelahirannya, karena budaya sintren di sana masih kuat," kata dia.


Ia mengatakan Slamet Gundono banyak membuat kejutan dalam seni pedalangan, yakni sempat membuat kejutan pada pentas Greget Dalang di Solo beberapa tahun lalu dalang ikut menari di atas panggung.


"Seketika itu almarhum Slamet Gundono mendapat protes karena dalang yang tampil dan ikut menari di atas panggung melanggar pakem (aturan) yang ada dan untuk jalan tengahnya sekarang ini mengundang pelawak-pelawak yang menari di panggung," katanya.


Ki Mantep Sudarsono yang terkenal dengan sebutan dalang Oye juga mengakui, almarhum merupakan dalang serbabisa. "Slamet Gundono itu tidak hanya bisa mendalang dengan media wayang suket, tetapi dengan gaya lainnya juga mahir apalagi dengan gaya tradisional juga tidak kalah dengan dalang-dalang senior lainnya," katanya.


Butet Kertanegara yang membacakan biografi singkat Gundono sebelum jenazah diberangkatkan mengatakan, almarhum lulus dari ISI Surakarta tahun 1999, dengan karya-karya seninya di antaranya Wayang Suket, Wayang Lindur, Wayang Air dan bahkan dalam pentas yang sempat menjadi gempar oleh para penonton ketika membawa wayang dengan cerita "Pandawa Lima Gugur".


Almarhum dalam membawakan cerita ini yang mematikan semua Pandawa Lima mendapat protes keras dari komunitas wayang kulit. "Ya, ini kelebihan almarhum seperti ini," kata Butet sambil menambahkan bahwa dalam menggeluti karya-karya seni tradisional ini Slamet Gundono juga mendapat penghargaan dari Pemerintah Belanda dan Kementerian Pendidikan Nasional.


Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Yuning Rejeki dan dua anak, yaitu Nandung Albert Slamet Saputra (9) dan Bening Putriaji (3,5) yang tinggal di rumahnya di Mojosongo, Solo.


21.50 | 0 komentar | Read More

Alasan Jusuf Gugat Cerai Cut Tari

Written By Luthfie fadhillah on Sabtu, 04 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Setelah sempat sulit dicari untuk dimintai komentar, suami presenter Cut Tari, Johannes Jusuf Soebrata yang akrab disapa Jusuf akhirnya memberikan keterangan perihal gugatan cerai yang diajukan kepada istrinya.


Ditemui di kediamannya di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Sabtu (4/1), Jusuf menjelaskan, tidak adanya lagi keharmonisan antara keduanya menyebabkan ia mengajukan gugatan cerai itu.


"Iya, benar ada gugatan itu. Tetapi saya lupa kapan memasukkannya. Namanya pernikahan, kalau sudah tidak ada kecocokan, mau bagaimana lagi?" ujar Jusuf.


Lebih lanjut, Jusuf  tak tahu sejak kapan ketidakcocokan dengan sang istri bermula. Tetapi ia menyakini tidak ada orang ketiga dalam rumah tangganya itu.


"Saya enggak tahu. Soalnya enggak menghitung yang kayak itu (merasa tidak cocok lagi dengan Cut Tari). Saya tegaskan, tidak ada orang ketiga yang menyebabkan ini semua terjadi," lanjutnya.


Jusuf juga mengatakan, ia siap menghadapi sidang perdana yang akan digelar pada 22 Januari 2014.


"Itu semua masalah waktu saja kok, kami memang sudah tidak harmonis,” tegas Jusuf.


21.50 | 0 komentar | Read More

33 Tokoh Sastra Dinobatkan Paling Berpengaruh di Indonesia

Written By Luthfie fadhillah on Jumat, 03 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan Tim 8 mengumumkan 33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia sejak tahun 1900 hingga kini, yang dituangkan dalam sebuah buku dengan judul sama, di Jakarta, Jumat (3/1) sore.


Dalam acara diskusi bedah buku tersebut, Ketua Tim 8 yang juga Ketua Tim Juri, Jamal D rahman mengatakan, 33 tokoh sastra yang paling berpengaruh itu adalah hasil seleksi panjang yang dilakukan oleh Tim 8 pada tahun 2013.


"Tokoh yang terpilih mulai dari Kwee Tek Hoay (1886-1952), Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, HB Jassin, sampai dengan Helvy Tiana Rosa yang lahir tahun 1970. Tim 8 juga memilih aktivis yang menggerakkan Indonesia Tanpa Diskriminasi melalui karya sastra, dan sebenarnya tak berminat menjadi penyair, Denny JA, yang karyanya 'Atas Nama Cinta' baru terbit tahun 2012," katanya.


Jamal pun menceritakan sulitnya menyaring 33 tokoh paling berpengaruh, di antara begitu banyak sastrawan yang layak ditetapkan.


"Tim melakukan kajian dan debat yang melelahkan, mengenai siapa yang harus terpilih dan siapa yang tidak. Subyektivitas tim juri tentu saja bermain. Namun, karena delapan tim juri ini memiliki reputasi dan bekerja secara independen, pilihan subyektifnya dapat dipertanggung jawabkan secara akademik," katanya.


Untuk itulah, kata Jamal, tim juri sepakat hanya mengumumkan pilihan ini setelah buku pertanggungjawaban akademiknya terbit.


Menurut Jamal pula, setelah melalui perdebatan dua hari lebih, akhirnya Tim 8 menetapkan empat kriteria untuk memilih 33 tokoh sastra paling berpengaruh itu. Jika memenuhi satu dari empat kriteria itu, seorang tokoh sudah bisa disebut berpengaruh.


Empat kriteria itu adalah: pertama, pengaruhnya tidak hanya berskala lokal, melainkan nasional; kedua, pengaruhnya relatif berkesinambungan, dalam arti tidak menjadi kehebohan temporal atau sezaman belaka; ketiga, dia menempati posisi kunci, penting dan menentukan; keempat, dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang.


Anggota Tim 8 sendiri terdiri dari Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshauser, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, serta Nenden Lilis Aisyah.


Banyak tokoh yang terpilih yang memang sudah dikenal publik luas sebagai "Dewa Sastra" seperti WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Chairil Anwar, Goenawan Mohammad, Sutan Takdir Alisjahbana, HB Jassin, serta Taufik Ismail. Namun, ada pula tokoh yang selama ini kurang dikenal publik luas di dunia sastra. Yang menonjol adalah ikut terpilihnya Denny JA, seorang konsultan politik ternama dan penggagas gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi, dalam barisan 33 sastrawan yang berpengaruh itu.


Tim Juri menjelaskan, Denny JA terpilih karena ia melahirkan genre baru dalam puisi Indonesia yang disebut genre puisi esai. Jenis puisi ini kini disebut menjadi salah satu tren sastra mutakhir, yang sudah direkam dalam kurang lebih 10 buku.


"Genre puisi esai ini memancing perdebatan luas di kalangan sastrawan sendiri. Aneka perdebatan itu sudah pula dibukukan. Terlepas dari pro-kontra pencapaian estetik dari puisi esai, pengaruh puisi esai dan penggagasnya Denny JA dalam dinamika sastra mutakhir tak mungkin diabaikan siapa pun," ujar tim juri.


21.50 | 0 komentar | Read More

10 Film Paling Laris di 2013 Versi Box Office Mojo

Written By Luthfie fadhillah on Kamis, 02 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - "Iron Man 3" yang diangkat dari komik buatan Marvel menjadi film terlaris sedunia sepanjang tahun 2013. Berdasarkan data yang dirilis oleh Box Office Mojo, film yang dibintangi Robert Downey Jr tersebut mendapatkan untung sebesar US$ 1.2 miliar. Di peringat dua ada "Despicable Me 2" dan peringkat tiga "The Hunger Games: Catching Fire"


Berikut daftar lengkap 10 film terlaris versi Box Office Mojo
1. Iron Man 3 - US$ 1.215 miliar.
2. Despicable Me 2 - US$ 918 miliar.
3. The Hunger Games: Catching Fire - US$ 795 miliar.
4. Fast & Furious 6 - US$ 788 miliar.
5. Monsters University - US$ 743 miliar.
6. Man of Steel - US$ 662 miliar.
7. Gravity - US$ 653 miliar.
8. Thor: The Dark World - US$ 629 miliar.
9. The Hobbit: The Desolation of Smaug - US$ 614 miliar.
10. The Croods - US$ 587 miliar.


21.50 | 0 komentar | Read More

Rhoma Bangga Bisa Duet dengan Jokowi

Written By Luthfie fadhillah on Rabu, 01 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Penyanyi dangdut legendaris Rhoma Irama mengaku bangga dapat menyanyi secara duet bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) di panggung Jakarta Night Festival (JNF).


"Saya happy dan juga bangga bisa berduet dengan Pak Jokowi. Seperti yang kita semua ketahui, Pak Jokowi adalah salah satu putra terbaik bangsa," kata Rhoma usai tampil bersama Jokowi di panggung utama JNF yang terletak di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Rabu (31/12).


Selain mengaku senang dan bangga, dia juga menilai bahwa Jokowi adalah sosok yang senantiasa rendah hati meskipun memiliki banyak prestasi membanggakan.


"Di mata saya, beliau (Jokowi) adalah orang yang punya banyak prestasi. Meskipun begitu, beliau tetap rendah hati. Makanya, saya bangga bisa berduet dengannya," ujar Rhoma.


Duet Jokowi dan Rhoma tersebut dilakukan sekitar sepuluh menit menuju puncak malam pergantian tahun, yakni sekitar pukul 23.50 WIB.


Di panggung, Jokowi dan Rhoma menyanyikan lagu yang berjudul Darah Muda. Selama menyanyi, Jokowi melihat teks lagu yang sudah diselipkan di mikrofonnya.


Beberapa kali Jokowi pun melirik ke catatan tersebut agar tidak ada lirik yang terlewat, sehingga dapat terus menyanyikan lagu itu seirama dengan Rhoma.


Selama Jokowi dan Rhoma menyanyi bersama, segenap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) DKI berdiri berjajar dibelakang gubernur dan raja dangdut tersebut sambil bertepuk tangan.


Sementara itu, melihat Jokowi dan Rhoma berduet, para penonton pun sontak ikut bernyanyi dan bergoyang bersama sambil mengangkat tangan keatas.


Setelah selesai dengan Darah Muda, Rhoma lanjut menyanyikan lagu kedua, yaitu berjudul Adu Domba. Namun, pada lagu kedua itu Rhoma tidak lagi berduet dengan Jokowi.


Pada lagu kedua, Joko berdiri di belakang Rhoma, berdampingan dengan jajarannya sambil bertepuk-tepuk tangan menikmati lagu yang dibawakan oleh raja dangdut tersebut.


21.50 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger