Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Dua Model dari Indonesia Masuk 16 Besar Asia's Next Top Model

Written By Luthfie fadhillah on Sabtu, 11 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Tidak seperti di musim pertama, Asia's Next Top Model musim ini memilih dua model Indonesia untuk menjadi kontestan pada acara yang diproduksi oleh Fox International Channels.


Dua kontestan yang terdiri dari Bonadea dan Janice ini, terpilih karena berhasil lolos di semua tahapan tes, terutama tes psikologi.


"Karena nantinya para kontestan akan diisolasi sepanjang masa karantina, maka penyaringannya pun lebih ketat, terutama di tes psikologi. Siapa yang kira-kira bisa mengontrol emosi dengan baik akan lebih dipertimbangkan," ujar Tiara Sugiyono, Senior Executive Marketing Fox International Channel pada jumpa pers di Jakarta, Sabtu (11/1).


Menurut Tiara, di musim kedua ini memang proses penyaringan untuk mendapatkan 16 finalis lebih berbeda. Penyaringan di musim pertama sifatnya lebih tertutup, undangan audisi hanya dikirimkan ke agenci-agenci saja.


Namun pada musim kedua ini semua orang bisa berkesempatan untuk mengikuti ajang pencarian model tersebut.


"Penyaringan musim ini lebih terbuka. Setiap negara yang terdiri dari 12 negara mengadakan audisi lokal dan dipilih shortlist yang paling kompeten. Indonesia sendiri berhasil mengirim 20 shortlist. Karena jumlahnya cukup banyak, akhirnya bisa terpilih 2 orang kontestan," lanjut Tiara.


Negara lain yang berhasil meloloskan dua kontestan adalah Singapura dan Malaysia.


Tidak seperti di musim pertama, penayangan Asia's Next Top Model kali ini belum ada di saluran televisi lokal. Saat ini para penonton baru bisa menyaksikannya di Star World yang merupakan saluran televisi internasional.


"Kita sudah tidak bekerjasama dengan RCTI seperti tahun lalu, karena menurut mereka tayangan ini kurang diminati. Padahal menurut kita kenyataan di lapangan tidak seperti itu," kata Tiara.


Namun, Tiara melanjutkan bahwa mereka sesegera mungkin akan membuat kerjasama dengan saluran televisi lokal lain.


"Saat ini sudah ada kandidat, namun belum ada konfirmasi. Tunggu saja kabar selanjutnya. Tapi bagi yang tidak berlangganan TV kabel dan ingin menyaksikan, kita sudah upload di Youtube untuk episode pertama," tandasnya.


Asia's Next Top Model musim kedua akan tayang perdana di Asia pada 8 Januari 2014 lalu, dan akan tayang setiap hari Rabu pukul 20.40 WIB di Star World.


21.50 | 0 komentar | Read More

Disetir Industri, Jay Subiakto Prihatin dengan Seniman Muda

Written By Luthfie fadhillah on Jumat, 10 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Jay Subiakto mengaku khawatir dengan seniman muda atau generasi sekarang yang selalu diatur oleh industri dalam berkarya, entah dalam musik ataupun film. Dengan banyaknya suguhan-suguhan dari industri tersebut, maka banyak karya-karya yang sebenarnya bagus tetapi tidak tereskpos.


"Saya berharap generasi muda mau mencoba untuk berpikir dan juga memiliki idealisme. Karena tidak semua yang kita lakukan untuk uang," ujarnya di sela-sela jumpa pers konser 40 Tahun Erros Djarot Berkarya di Jakarta, Jumat (10/1).


Menurutnya, generasi muda harus bisa memikirkan sesuatu yang original dan baru bila ingin menjadi berkualitas. Dengan begitu, Jay selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya agar masyarakat bisa mengapresiasi yang memang patut diapresiasi.


"Orang Indonesia juga memiliki kecenderungan lebih menghargai karya orang asing. Misalnya bila musisi asing konser di sini dengan musik seadanya dan telat memulai konser, penonton mana ada yang marah-marah. Namun, bila saya yang melakukan kesalahan semua marah-marah. Padahal saya selalu total dalam menggelar konser tidak pernah setengah-setengah," keluhnya.


Dia juga mencontohkan untuk konser 40 Tahun Erros Djarot Berkarya yang sedang dia urus. Jay mengungkap tidak akan menampilkan hingar bingar yang tidak bermutu, seperti yang ada di televisi.


"Bila konser persembahan Mas Erros ini masuk televisi, pasti kita harus menampilkan artis-artis yang lagi ngetop seperti Cherrybelle, JKT 48 atau Wali. Karena televisi kita hanya mementingkan rating," imbuh Jay.


21.50 | 0 komentar | Read More

Ayu Ting Ting Tolak Enji Beri Nama Bayinya

Written By Luthfie fadhillah on Kamis, 09 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Rupanya Ayu Ting Ting benar-benar sudah membenci suaminya, Hendri Baskoro atau yang akrab disapa Enji. Bahkan Ayu dengan tegas menolak bila Enji memberikan nama pada bayi yang dilahirkannya itu. Selain itu Ayu akan menolak kedatangan Enji bila nantinya dirinya melahirkan. Hal itu diungkapkan ayahanda Ayu Ting Ting, Abdul Rozak saat ditemui di kediamannya di Sukmajaya, Depok, Jawa Barat, Kamis (9/1).


"Enggak perlu repot-repot kasih nama, nama sudah dibuatkan bundanya," ungkap Abdul Rozak.


Abdul Rozak sendiri mengaku bahwa pemilihan nama bagi bayinya itu sudah dipersiapkan Ayu sejak jauh-jauh hari dan nama yang akan diberikannya itu dianggap nama yang pas bagi cucu pertamanya itu.


"Sama Ayu sudah dipersiapkan namanya dengan matang sejak jauh-jauh hari. Namanya Islami deh, biar sifatnya bagus juga," lanjut ayahanda pelantun "Sik Asik itu."


Disinggung perihal Enji yang ingin menjenguk putrinya yang sedang diisukan melahirkan, Abdul Rozak dengan tegas menolak kedatangan Enji menjenguk putri kesayangannya itu.


"Gak usah pikirin anak ayah lagi, mending pikirin yang ada di luar sana. Anak ayah sudah sama ibunya, itu cukup bagi kami untuk menemani saat Ayu melahirkan. Dia tidak perlu memaksa-maksa ketemu Ayu, karena Ayu juga akan menolaknya," ujarnya dengan sedikit emosi.


21.50 | 0 komentar | Read More

Film "99 Cahaya di Langit Eropa" Raih 1,1 Juta Penonton

Written By Luthfie fadhillah on Rabu, 08 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Di tengah lesunya jumlah penonton bioskop di Indonesia, kabar menggembirakan datang dari film "99 Cahaya di Langit Eropa" garapan sutradara Guntur Soeharjanto.


Sejak tayang perdana di bioskop mulai 5 Desember 2013 lalu, film ini diakui Guntur telah meraih sebanyak 1,1 juta penonton. Bahkan hingga pekan ini, beberapa bioskop juga masih memutar film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan pasangan Hanum Rais dan Rangga Almahendra tersebut.


"Sudah satu bulan lebih diputar di bioskop, tapi apresiasinya masih bagus. Responnya juga positif dan mereka mengerti apa yang ingin kita sampaikan," kata Guntur Soeharjanto di Jakarta, Rabu (8/1).


Atas prestasi yang sudah diraihnya ini, Guntur mengaku tak ingin berpuas diri. Ia justru semakin terpacu untuk membuat sekuel film ini lebih baik lagi.


"Untuk bagian kedua sebetulnya sudah rampung sekitar 70 persen. Kita garapnya saat proses syuting yang pertama, jadi tinggal melengkapi yang kurangnya saja," kata dia.


Namun Guntur tak bisa memastikan kapan sekuel film ini akan segera dilengkapi. Hal ini terkait waktu dan cuaca.


"Di Eropa kebetulan kan juga lagi winter, jadi ada banyak hal yang harus dipersiapkan," ujarnya.


Sekuel film "99 Cahaya di Langit Eropa" ini menurut Guntur akan berkisah tentang lanjutan perjalanan Hanum Rais (Acha Septriasa) dan Rangga Almahendra (Abimana Aryasatya) dalam menapaki jejak-jejak kebesaran Islam di benua biru Eropa.


"Film yang pertama kan baru menampilkan perjalanan Hanum dan Rangga ke Vienna (Austria) dan Paris (Perancis), di part 2 nanti akan ada sambungan perjalanan mereka ke Cordoba (Spanyol) dan Istambul (Turki). Kita juga akan coba untuk bisa syuting di Mekkah," ungkapnya.


21.50 | 0 komentar | Read More

Dikabarkan Akan Bercerai, Ini Jawaban Christy Jusung

Written By Luthfie fadhillah on Selasa, 07 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Kabar keretakan rumah tangga pasangan selebriti Christy Jusung dan suaminya Jay Alatas ditanggapi santai oleh mantan istri Hengki Kurniawan itu. Hal itu diungkapkannya saat ditemui di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (6/1).


"Rumah tangga bagian mana ya yang retak? Kalaupun ada yang minta ditanggapi, bagian mana yang harus ditanggapi? Hubungan rumah tangga kita masih baik-baik saja sampai sekarang. Mas Jay pasti tahulah isu ini, karena memang kerja di lingkungan yang sama dan tanggapannya hanya senyum saja," ungkap Christy Jusung.


Christy juga menyangkal isu keretakan rumah tangganya akibat tidak akurnya hubungan ibu dan anak tirinya.


"Kata siapa saya bermasalah (dengan anak-anak Jay)? Kita biasa-biasa saja, kok. Kita masih sering ketemu kalau pas memang ada waktu," lanjut ibunda Bintang itu.


Dijelaskan pula oleh Christy, keluarga besar mereka tetap menganggap santai isu yang beredar dan menyerahkan semuanya kepada Christy dan Jay yang menjalani rumah tangga.


"Keluarga sendiri menyikapi santai pemberitaan miring ini. Mereka menyerahkan semuanya pada saya dan Mas Jay, karena kita sudah dewasa," tuturnya.


21.50 | 0 komentar | Read More

"Girl Rising", Kisah Remaja Perempuan di Negara Berkembang

Written By Luthfie fadhillah on Senin, 06 Januari 2014 | 21.50


Jakarta - Hari ini Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) menyelenggarakan pemutaran film berjudul Girl Rising di @america Pacific Place, Jakarta. Film ini mengisahkan kondisi anak-anak perempuan yang tinggal di beberapa negara sedang berkembang.


Kumpulan kisah ini dikemas dalam bentuk film dokumenter yang disutradarai oleh Richard E. Robins dan didukung oleh Intel Corporation dan CNN Films.


Film ini juga dinaratori oleh beberapa artis Hollywood. Antara lain, Meryl Streep, Anne Hathaway, Liam Neeson, Cate Blanchett dan Selena Gomez.


"Kita harus peduli dengan kondisi perempuan karena ada seorang ahli ekonomi yang bilang kalo keberhasilan suatu negara juga ditentukan dengan kondisi perempuan dari negara tersebut," ungkap Kristen F. Bauer, Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia pada acara diskusi dan pemutaran film dokumenter Girl Rising di Jakarta, Senin (6/1).


Kristen juga menggambarkan bahwa kondisi perempuan di dunia masih sangat memprihatinkan. Sebanyak dua pertiga penduduk di dunia yang buta huruf adalah berjenis kelamin perempuan. Dan masih banyak perempuan di dunia yang mendapat pelayanan kesehatan buruk.


"Film ini sudah diputar di beberapa negara termasuk Amerika Serikat dan mendapat sambutan yang sangat baik. Saya harap melalui film ini isu-isu kekerasan terhadap perempuan bisa berkurang," ujarnya.


Film dokumenter ini mengisahkan kehidupan seorang anak perempuan yang berasal dari sembilan negara. Yaitu Kamboja, Haiti, Nepal, Mesir, Ethiopia, India, Peru dan Afghanistan.


Diceritakan bahwa kemiskinan dan budaya di masyarakat menjadi isu utama dalam menghambat pendidikan perempuan. Perempuan di belahan-belahan dunia tersebut tidak bisa menikmati pendidikan selayaknya. Bahkan sebagian dari mereka harus rela bekerja di usia dini untuk mengalah karena orang tuanya hanya mampu menyekolahkan saudara laki-lakinya.


"Keluarga lebih memilih laki-laki yang disekolahkan, karena dianggap laki-laki bisa merantau ke kota dan bisa lebih mandiri. Selain itu, laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah yang ideal untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga," kata Michelle Bekkering, Resident Country Director, International Republican Institute (IRI).


21.50 | 0 komentar | Read More

Dalang Wayang Suket Slamet Gundono Berpulang

Written By Luthfie fadhillah on Minggu, 05 Januari 2014 | 21.50


Solo - Dalang kondang wayang suket Slamet Gundono meninggal dunia pada hari Minggu (5/1) pukul 08.45 WIB di Rumah Sakit Islam Yarsis Solo, dan jenazahnya akan dimakamkan di tanah kelahirannya di Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (6/1).


Sebelum dibawa ke Slawi, jenazah dalang kelahiran 19 Juni 1966 itu akan lebih dulu disemayamkan di pendapa Taman Budaya Jawa Tengah di Kentingan Solo untuk diberikan penghormatan terakhir oleh para seniman dan budayawan dari Solo dan Yogyakarta.


Setelah selesai diberikan penghormatan dan tata cara adat jenazah Slamet Gundono yang juga terkenal sebagai dalang sintren itu pada pukul 17.00 WIB dengan kendaraan darat diberangkatkan menuju Slawi.


Seniman dan budayawan Bambang Murtiyoso mengatakan dengan meninggalnya Slamet Gundono, ia merasa kehilangan, karena almarhum mempunyai potensi yang luar biasa.


"Slamet Gundono itu memang dalang serba bisa dan mempunyai kreativitas yang luar bisa dan suaranya juga bagus," kata dosen almarhum ketika masih kuliah di Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo itu.


Ia mengatakan Slamet Gundono ketika kuliah memang sudah menonjol dibandingkan dengan mahasiswa lainnya, utamanya pada suaranya yang mengekspresikan nada rendah sampai tinggi.


Almarhum Slamet Gundono juga punya latar belakang teater, sehingga dalam memeragakan wayang juga bisa mengekpresikan wayang terbuat dari barang mati bisa seperti hidup. "Ini kelebihannya yang tidak semua dalang memilikinya," imbuhnya.


Pengamat budaya MT Arifin mengatakan almarhum selain menjadi dalang wayang suket juga merupakan dalang sintren yang merupakan keturunan dari kakeknya yang dulu juga merupakan dalang sintren.


"Tidak semua orang bisa melakukan dalang sintren dan almarhum Slamet Gundono merupakan tokoh di daerahnya yang sekaligus merupakan dalang sintren yang terakhir saat ini. Untuk itu wajar kalau warga daerahnya menghendaki jenazah alamarhum untuk dimakamkan di tempat kelahirannya, karena budaya sintren di sana masih kuat," kata dia.


Ia mengatakan Slamet Gundono banyak membuat kejutan dalam seni pedalangan, yakni sempat membuat kejutan pada pentas Greget Dalang di Solo beberapa tahun lalu dalang ikut menari di atas panggung.


"Seketika itu almarhum Slamet Gundono mendapat protes karena dalang yang tampil dan ikut menari di atas panggung melanggar pakem (aturan) yang ada dan untuk jalan tengahnya sekarang ini mengundang pelawak-pelawak yang menari di panggung," katanya.


Ki Mantep Sudarsono yang terkenal dengan sebutan dalang Oye juga mengakui, almarhum merupakan dalang serbabisa. "Slamet Gundono itu tidak hanya bisa mendalang dengan media wayang suket, tetapi dengan gaya lainnya juga mahir apalagi dengan gaya tradisional juga tidak kalah dengan dalang-dalang senior lainnya," katanya.


Butet Kertanegara yang membacakan biografi singkat Gundono sebelum jenazah diberangkatkan mengatakan, almarhum lulus dari ISI Surakarta tahun 1999, dengan karya-karya seninya di antaranya Wayang Suket, Wayang Lindur, Wayang Air dan bahkan dalam pentas yang sempat menjadi gempar oleh para penonton ketika membawa wayang dengan cerita "Pandawa Lima Gugur".


Almarhum dalam membawakan cerita ini yang mematikan semua Pandawa Lima mendapat protes keras dari komunitas wayang kulit. "Ya, ini kelebihan almarhum seperti ini," kata Butet sambil menambahkan bahwa dalam menggeluti karya-karya seni tradisional ini Slamet Gundono juga mendapat penghargaan dari Pemerintah Belanda dan Kementerian Pendidikan Nasional.


Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Yuning Rejeki dan dua anak, yaitu Nandung Albert Slamet Saputra (9) dan Bening Putriaji (3,5) yang tinggal di rumahnya di Mojosongo, Solo.


21.50 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger